Rumah Sakit Indonesia di Gaza, yang merupakan salah satu fasilitas kesehatan terbaik di wilayah tersebut, menghadapi ancaman penutupan total akibat krisis bahan bakar yang melanda Jalur Gaza. Krisis ini disebabkan oleh blokade Israel yang memutus pasokan listrik dan bahan bakar ke Gaza, serta serangan udara yang menghancurkan infrastruktur dan mengganggu distribusi bantuan kemanusiaan.

Rumah Sakit Indonesia di Gaza adalah rumah sakit yang dibangun oleh Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, sebuah organisasi non-pemerintah yang bergerak di bidang kesehatan dan kemanusiaan. Rumah sakit ini mulai beroperasi pada tahun 2011, dan menyediakan layanan medis gratis bagi warga Gaza yang membutuhkan, terutama korban luka akibat konflik bersenjata.

Rumah sakit ini memiliki fasilitas lengkap, seperti ruang operasi, ruang rawat inap, laboratorium, farmasi, radiologi, dan unit gawat darurat. Rumah sakit ini juga memiliki staf medis profesional, baik dari Indonesia maupun Palestina, yang bekerja dengan dedikasi dan kompetensi. Rumah sakit ini telah menangani ribuan pasien, baik yang menderita penyakit kronis maupun yang mengalami cedera akibat serangan Israel.

Namun, rumah sakit ini kini mengalami kesulitan untuk melanjutkan operasionalnya, karena kehabisan bahan bakar untuk menghidupkan generator listrik. Sejak Israel memblokade pasokan listrik ke Gaza, rumah sakit ini sangat bergantung pada generator untuk menjalankan peralatan medis dan fasilitas lainnya. Tanpa bahan bakar, generator tidak bisa berfungsi, dan rumah sakit tidak bisa melayani pasien.

Menurut Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Dr. Joserizal Jurnalis, generator utama rumah sakit telah berhenti beroperasi sejak 1 November 2023, dan rumah sakit hanya bisa menggunakan generator cadangan yang memiliki kapasitas lebih rendah. Akibatnya, beberapa fasilitas penting, seperti stasiun oksigen, ventilasi, AC, dan kulkas untuk menyimpan mayat, tidak bisa digunakan. Rumah sakit juga harus mengurangi jumlah pasien yang dirawat, dan memprioritaskan kasus-kasus yang kritis.

Dr. Joserizal mengatakan, jika bantuan bahan bakar tidak segera masuk ke Gaza, rumah sakit akan terpaksa ditutup sepenuhnya dalam beberapa hari ke depan. Hal ini tentu akan berdampak buruk bagi kesehatan dan keselamatan warga Gaza, yang sudah menderita akibat blokade dan serangan Israel. Dr. Joserizal mengimbau kepada pemerintah dan masyarakat internasional, khususnya Indonesia, untuk membantu mengatasi krisis bahan bakar di Gaza, dan mendesak Israel untuk menghentikan blokade dan agresinya.

Rumah Sakit Indonesia di Gaza bukanlah satu-satunya rumah sakit yang terkena dampak krisis bahan bakar di Gaza. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, sekitar 16 rumah sakit dan 50 klinik di Gaza menghadapi ancaman penutupan akibat kekurangan bahan bakar. Salah satu rumah sakit yang sudah ditutup adalah Rumah Sakit Persahabatan Turki-Palestina, yang merupakan satu-satunya rumah sakit khusus kanker di Gaza.

Krisis bahan bakar di Gaza juga berpengaruh pada sektor-sektor lain, seperti air, sanitasi, pendidikan, dan transportasi. Diperkirakan sekitar 1,5 juta warga Gaza terpaksa mengungsi, dan mengalami kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan pokok, seperti makanan, air bersih, dan obat-obatan. Situasi ini semakin memperparah kondisi kemanusiaan di Gaza, yang sudah termasuk sebagai salah satu wilayah paling miskin dan tertindas di dunia.

Berikut adalah beberapa fakta dan data terkait krisis bahan bakar dan kesehatan di Gaza:

1.Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 13.000 orang terluka akibat serangan Israel sejak 7 Oktober 2023, dan membutuhkan perawatan medis yang mendesak.

2.WHO juga menyatakan bahwa sepertiga rumah sakit dan dua pertiga klinik di Gaza tidak berfungsi akibat kekurangan bahan bakar, listrik, air, dan obat-obatan.

3.WHO memperkirakan bahwa sekitar 40% pasien yang membutuhkan rujukan medis ke luar Gaza tidak bisa mendapatkan izin dari Israel, dan berisiko mengalami kematian atau kecacatan permanen.

4.Menurut Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), sekitar 940 anak hilang di Gaza akibat serangan Israel, dan beberapa di antaranya terjebak di bawah reruntuhan.

5.UNICEF juga mengkhawatirkan risiko kematian bayi akibat dehidrasi, karena banyak anak yang mengonsumsi air asin yang tidak layak minum.

6.Menurut Badan Bantuan dan Pekerjaan untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), sekitar 1,5 juta warga Gaza mengungsi ke tempat-tempat penampungan sementara, seperti sekolah, masjid, dan gereja.

7.UNRWA juga menyebutkan bahwa tempat-tempat pengungsian tersebut melebihi empat kali lipat dari kapasitasnya, dan tidak memiliki fasilitas sanitasi yang memadai.

8. Menurut Program Pangan Dunia (WFP), sekitar 80% warga Gaza bergantung pada bantuan pangan, tetapi pasokan makanan sangat terbatas akibat blokade dan serangan Israel.

9.WFP juga mengatakan bahwa harga makanan pokok, seperti roti, minyak, dan gula, meningkat hingga 60% akibat kelangkaan dan spekulasi.

“Together We Support Palestine”

Mengenal sosok Mohammed Deif

Melalui campaign “Together We Support Palestine” dari “Bahagiaberbagibersama.org,” kita memiliki kesempatan untuk berbuat sesuatu yang positif dan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Dukungan ini adalah ungkapan nyata dari solidaritas dan harapan kita untuk masa depan yang lebih baik di Palestina.

Ayo, berpartisipasi dalam campaign ini dan bersama-sama kita mendukung Palestina! Klik di sini untuk berpartisipasi.

Kunjungi Juga Instagam bahagiaberbagibersama

Dengan bersatu, kita dapat membuat perbedaan yang signifikan dalam kehidupan warga Palestina yang membutuhkan bantuan kita. Mari bersama-sama mengirimkan pesan bahwa perdamaian dan keadilan adalah cita-cita bersama kita semua.

Baca Juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *